MENGEJAR CITA BERSAMA CINTA
By Muhammad Ainul Yaqin.
Terkadang banyak orang yang memandang orang lain karena hartanya, melihat bahwa orang itu bisa karena dia kaya, dan percaya bahwa orang itu mampu karena punya harta.
Namaku Dino, bukan Dino saurus kepanjangannya, tapi Dino Rianto.
Aku akan mengisahkan tentang masa sekolahku yang selalu mendapat rintangan, cemoohan, dan selalu di pandang sebelah mata oleh teman-temanku, orangtua kekasihku, kekasihku sendiri, bahkan Guruku.
Penyebabnya mereka memandang sebelah mata padaku hanya karena aku anak orang yang sederhana.
Ya, kata sederhana atau miskin itulah yang selalu membuat mereka semua memandangku sebelah mata.
Hanya cinta sahabatlah, yang selalu menerangi jiwa ini saat aku jauh dari orangtuaku, dan semua keluargaku.
***
Siang ini sangat ramai, di Sekolah Luarbiasa kota Biru Indah semua Anak nampak beraktifitas seperti biasanya.
Ada yang mengobrol tentang pelajaran, yang cewek ngobrol tentang sinetron, bahkan tidak jarang juga anak-anak yang mengobrol tentang bola. Pokoknya ramai deh, seperti pasar.
Di depan kelasku, nampak segerombolan anak yang sedang asyik membahas tentang bola, aku dapat mengenali suaranya, Mereka adalah Ario, Teguh, dan Andi.
Mereka langsung terdiam seribubahasa saat mengetahui aku datang dan ikut duduk bergabung di samping Mereka.
Diam, berbisik, dan akhirnya mereka pergi.
Sebenarnya aku juga nggak tahu, apa salahku? Apa dosaku hingga mereka semua menjauhiku. Yang aku tahu, aku hanyalah anak orang tapunya.
Tapi mungkinkah karena itu mereka semua menjadi menjauhiku?
Ya, aku memang anak orang yang sangat sederhana, Pekerjaan Bapakku hanyalah penjual buah keliling yang tak menentu penghasilannya. Boro-boro untuk membeli pakaian yang bagus, kendaraan yang mewah, untuk makan saja jika hari ini ada kami sangat bersyukur.
Toh kesederhanaan atau lebih kasarnya kemiskinan itu semua tidak ada masalah bagi aku.
Bagiku asalkan aku bisa memandang dirinya didalam cermin sebagai diriku sendiri itu merupakan hal yang sangat berharga didalam hidup ini.
Dalam artian aku bisa menunjukan aku apa adanya untuk diriku sendiri, tanpa ada yang kulebihkan dan kukurangi itu merupakan bagian hidup yang sampai saat ini massih sangat aku pertahankan.
Selama ini sering aku mengamati kehidupan di sekitarku, atau merasakan kehidupan disekitarku, banyak sekali orang yang tidak jujur pada dirinya sendiri, maupun pada oranglain.
Seringkali aku melihat bagaimana teman-temanku yang berpenampilan menarik jika ketemuan dengan pacarnya, padahal saat di kosan bajunya sudah 1 minggu tidak dicuci.
Apa mungkin Para pejabat yang berpidato sangat lembut, sangat mengutamakan kepentingan Masyarakat kecil, seolah-olah masyarakat yang terutama dan lebih penting dari segala-galanya, padahal di balik sakunya terselip uang pembangunan sekolah, pembangunan jalan, dan lain-lain yang tentunya membuat masyarakat kecil semakin terjepit.
Dan kedua manusia yang sedang dilanda asmara yang mengatakan kamulah yang terindah, kamulah yang sanggup membuat aku tergila-gila, aku tidak akan meninggalkanmu, apapun yang terjadi.
Padahal dibelakang kekasihnya dia tergila-gila pada orang lain yang lebih indah dompetnya, yang berujung meninggalkan kekasihnya karena orang ketiga yang dompetnya lebih tebal.
Aku tidak suka dengan ketidakjujuran seperti itu, meskipun aku tidak bisa mengatakan bahwa akulah orang yang selalu jujur, akulah orang yang takpernah berbohong, tentu aku tidak bisa mengatakan itu, sebab setiap manusia yang masih bernafas pasti sedikit banyak pernah melakukan kebohongan baik pada orang lain, maupun pada dirinya sendiri.
Tapi setidaknya aku selalu tampil apa adanya, tanpa ada yang aku kurangi, maupun aku lebihkan.
Inilah aku yang jelek, inilah aku yang miskin, inilah aku yang bodoh, inilah aku yang memiliki kekurangan penglihatan pada mataku, atau lebih tepatnya dikatakan tunanetra.
"Woy, ngelamun sendirian ajah loh?"
Ucap seorang gadis manis bersuara cempreng menyadarkanku dari lamunan ini.
Aku dapat mengenali suaranya, Dia adalah Devi.
Ya, dari semua teman yang menjauhiku, hanya Devi yang masih mau bersahabat denganku.
Bukannya Devi juga sama anak orang miskin seperti aku, itu bukan.
Devi anak orang kaya, Bapaknya mempunyai banyak lestoran di seluruh Negri ini. Ibunya mempunyai bisnis garmen yang besar dan banyak cabangnya.
Wajah Devi juga cantik, seperti Nikitawili.
Tapi entah mengapa, ini anak mau bersahabat denganku yang miskin dan buta.
Ya, meskipun Devi berbeda jauh denganku, namun toh dia masih mau menjadi sahabat yang selalu ada buat aku.
***
Aku masih teringat 3 tahun yang lalu saat pertamakali aku berkenalan dengan Devi, waktu itu aku masih anak baru di sekolah ini, dan Devi juga sama, masih Siswi baru di sekolahnya, SMA 222.
SLB tempat aku sekolah dengan SMA 222 tempat Devi sekolah tepat berhadapan pintu gerbangnya, sehingga jika jam istirahat warung soto Pak Jarotlah yang menjadi tujuan anak-anak SMA 222 dan SLB Kota Biru Indah tempat aku sekolah.
Waktu itu aku mau beli soto Pak Jarot di depan, namun aku belum hafal jalannya. Berhubung aku anaknya nekat, aku jalan aja kedepan sendiri.
Dengan gagah dan berani aku berjalan setengah terburu-buru.
Aku nggak sadar di depanku ada becak yang sedang berhenti. Dan akupun menabrak becak itu sampai kakiku naik ke atas becak, karena aku kira itu bukan becak, tapi jalanan yang menanjak.
Abang becak yang lagi tertidur di atas becak sambil menunggu penumpangpun terbangun kaget.
Sampai akhirnya aku di gandeng abang becak itu sampai di tempat warung soto Pak Jarot.
"Mau beli apa Mas?"
Ucap seorang gadis di depanku.
"Beli soto, jangan pedes, di kasi lontong ya Bu."
Ucapku dengan lancar.
"Eh, maaf Mas, aku bukan penjualnya, itu penjualnya di depan."
Duh, malunya aku, ternyata salah orang aku.
"Duh, maaf Mbak, aku nggak liat."
Buru-buru aku meminta maaf pada Cewek SMA yang barusan aku panggil Bu Itu.
"Iya, Iya, nggak Papa Mas."
Jawab cewek itu.
Cewek itu terus duduk di bangku yang tepat di depan bangku yang aku duduki, sampai soto pesananku jadi dan masih dengan malu-malu aku melahap soto itu.
Nggak cuma disitu yang membuat aku malu-malu kuda, tapi karena soto itu lumayan pedas juga panas, ingusku sempat melongok dari hidung dan cewek itu pasti melihatnya.
Duh, betapa malunya aku, mau mengelap ini ingus malu, mau membiarkan apalagi.
Akhirnya aku pura-pura menunduk, sambil mengelap nih ingus.
Nah mulai disitu aku kenal Devi, karena kami sering ketemu di warung soto Pak Jarot, akhirnya kami saling berkenalan, dan bertahap kami saling mengenal, dan sampai saat ini kami menjadi 2 orang sahabat yang saling menyayangi.
***
"Aku lagi bingung nih Dev, mengapa ya? Mereka selalu menjauhi aku? Apa sebenarnya salahku?"
Ucapku pada Devi, setelah sekian lamanya aku terdiam.
"Udah lah, ngapain si kamu mikirin mereka? Toh kamu makan nggak disuapin mereka kan? Toh kamu jalan nggak harus digendong mereka kan? Jadi ngapain kamu mikirin mereka. Mending kita makan soto aja yuk."
Ucap Devi sambil meraih tanganku.
Ya, ini sahabat memang selalu ada di saat aku terjatuh, selalu ada menggenggam tanganku di saat aku rapuh, terutama rapuh karena di jauhi teman karena kemiskinan, juga di putuskan kekasih yang mungkin juga karena kemiskinan pula.
"Eh, Nak Dino sama Mbak Devi. Monggo, monggo, duduk dulu. Mau makan apa Mas ganteng sama Mbak cantik?"
Ucap Pak Jarot sangpenjual soto langganan.
"Biasa Pak, kami pesan Soto yang pedas, di kasih lontong ya."
Jawab Devi yang sekaligus menjadi juru bicara buat aku dalam memesan makanan, karena kesukaan kami benar-benar sama.
"Ok, Siap Neeeeeng."
Jawab Pak Jarot sambil tersenyum ramah.
"Aku yakin, pasti kamu nggak hanya galau karena dijauhi Mereka, tapi juga masih galau karena Diana kan?"
Tanya devi membuka pembicaraan.
Dan herannya tebakan nih bocah tepat Loh, kalau aku nggak hanya lagi galau karena dijauhi semua teman-teman, tapi yang paling mendasar galau karena aku teringat dengan mantanku yang bernama Diana, yang baru memutuskan aku tanpa sebab satu minggu yanglalu.
Berhubung pertanyaan Devi sangat tepat dan samasekali tidak melenceng, ya, aku hanya bisa mengangguk. Karena memang itu yang aku rasakan.
Ya, aku masih benar-benar teringat saat-saat menyakitkan itu, saat Diana kekasih yang sangat aku bangga-banggakan memutuskan aku tanpa sebab.
Tapi ya, entah memang benar-benar tanpa sebab, apa ada sebab lain yang aku nggak tahu, itu hanya Tuhan yang tahu.
***
"Mengapa? Mengapa kita harus putus?"
Tanyaku pada Diana waktu itu.
"Karena aku udah nggak ada rasa sama kamu, aku udah nggak sayang kamu lagi."
Itu, hanya itu alasan Diana.
"Lagian aku juga belum boleh pacaran sama Ayahku." Tambahnya.
Udah nggak sayang, udah nggak ada rasa, ini, ya, cuma ini buahnya dari hubungan asmara yang sudah aku bangun selama hampir 2 tahun dengan gadis munavik ini, cuman kata-kata hilangrasa, nggak sayang lagi, dan belum boleh pacaran sama Ayah. Cuma Kata-kata menjijikan itu buahnya.
Makannya, aku juga sebenarnya jijik dengan perasaanku sendiri, yang masih saja mencintainya, masih saja menyayanginya, dan masih sering berusaha menghubungi gadis munavik itu.
***
"Woooooy, malah ngelamun, nih sotonya udah jadi, ayo cepet dimakan, sebentar lagi masuk ini."
Ucapan Devi mengagetkan aku lagi dari lamunanku.
"Eh, iya, iya." Jawabku seperti orang bloon, lalu langsung menyantap soto lezat yang ada didepan mataku.
"Sudahlah Din, ngapain Kamu terus-terusan memikirkan Diana? Toh Diana juga belum tentu mikirin kamu."
Ucap Devi.
"Aku masih sangat menyayangi dia, Dev."
Jawabku jujur. Devi menarik nafas, tubuhnya di sandarkan pada kursi kayu yang ada di warung soto Pak Jarot itu. Lalu kemudian, Ia kembali membuka suara.
"Semua terserah kamu, Din, aku sebagai sahabat hanya bisa memberi saran yang terbaik, dan menghibur kamu sebisamungkin."
"Terimakasih, Dev, terimakasih."
Jawabku, kemudian kami kembali ke sekolah kami masing-masing untuk mengikuti MAPEL yang selanjutnya.
***
Hari ini hari Senin, aku terpaksa izin nggak masuk sekolah karena aku nggak enak badan.
Ya, rasa sakit hatiku karena diputuskan tanpa sebab oleh Diana dan dijauhi teman rupanya benar-benar membuat aku drop.
Aku izin nggak masuk sekolah, dan aku istirahat di kamar asramaku.
Samar-samar aku mendengar Pak Haryanto, pembimbing asramaku, sedang bercakap-cakap dengan Ayah dan Ibunya Teguh, yang baru datang untuk menjenguk Teguh di asrama.
"Iya, saya sangat mendukung kalau mas Teguh melanjutkan pendidikannya di Ibu Kota."
Ucap Pak Haryanto yang samar-samar kudengar.
"Iya, Pak, Teguh kan anaknya mampu, dan dia sangat percayadiri untuk melanjutkan pendidikan disana."
Jawab Ibunya Teguh.
"Iya, iya Bu, saya tahu, Teguh anaknya pintar, lincah, juga cerdik. Makannya, saya usahakan, supaya Teguh bisa masuk Unifersitas ternama di Ibu Kota."
Ucap Pak Haryanto.
"Iya, Pak, tapi terusterang saya masih belum tega kalau membiarkan Teguh merantau jauh dari saya."
"Ibu tenang, Bu, saya yakin, Teguh pasti dapat hidup mandiri disana, dan saya juga sangat mengerti, bahwa Teguh anak yang pandai membawa diri, bisa mengerti dan membaca situasi, jadi Ibu nggak usah khawatir."
Ucap Pak Haryanto begitu meyakinkan Ibunya Teguh, bahwa Teguh mampu hidup mandiri saat jauh dari orangtua.
Ucapan Pak Haryanto benar-benar terdengar bijaksana dan menenangkan, bagaikan seorang Ayah yang menenangkan anaknya dari segala macam ketakutan.
Disini aku heran, mengapa ucapan Pak Haryanto pada orangtua Teguh begitu berbeda 190 drajat sama ucapannya pada Orangtuaku 1 minggu yang lalu?
Padahal keinginanku dengan keininan Teguh sama, yaitu meneruskan pendidikan di Ibukota. Tapi mengapa Pak Haryanto begitu berbeda cara menanggapinya? Apa sebabnya?
Ya, betapa ucapan Pak Haryanto masih terngiang-ngiang ditelingaku. Ucapannya 1 Minggu yanglalu yang sempat membuat langkahku ragu, membuat aku rapuh, dan membuat aku menjadi kecil hati.
***
"Gimana Bu? Habis lulus dari sini rencananya Mas Dino mau lanjut kemana? Nikah, kerja, apa gimana?"
Tanya Pak Haryanto Pada Ibuku 1 Minggu yanglalu, saat Ibuku mengunjungi aku ke Asrama.
"Ya, Insya Allah si Mas Dino pengin kuliah di Jakarta, Pak."
Jawab Ibuku.
"Waduh, kuliah di Jakarta? Sepertinya agak susah, Bu, kalau Dino mau masuk kesana, selain saingannya banyak, biyaya kehidupannya juga sangat berat disana Bu."
Jawab Pak Haryanto Waktu itu.
Jelas, jawaban itu membuat aku kecil hati untuk melanjutkan kuliah.
Dan aku sempat bingung sesudah lulus SMA aku mau apa? Aku harus gimana?
Langsung nyari kerja nggak mungkin, aku tunanetra, pekerjaan apa yang pantas untuk aku yang hanya bermodalkan ijasa SMA?
Tapi kini aku baru tahu, rupanya Pak Haryanto ini tidak percaya bahwa orang miskin seperti aku bisa kuliah.
Aku baru tahu rupanya orang baru bisa kelihatan mampu melakukan segala macam hal apabila orang itu terlihat banyak uang, hidup berkecukupan, berpakaian bagus, juga berkendaraan mewah.
Sementara yang anak orang miskin seperti aku mungkin dimata orang tidak pantas mempunyai cita-cita, tidak pantas bersekolah tinggi, dan tidak mungkin mampu merubah kehidupannya, kecuali nazib yang mengubahnya.
Ok, kali ini aku kembali semangat.
Aku ingin membuktikan pada semua orang yang meremehkan aku, dan keluargaku, bahwa akupun bisa mengejar cita-citaku, bahwa akupun mampu bersekolah tinggi meskipun aku anak orang miskin.
Aku harus bisa! Ya, aku harus bisa!
Ayo, Dino! Kamu harus bisa, kamu harus bisa mengangkat derajat orangtuamu, kamu harus bisa menunjukan pada mereka bahwa kamupun mampu.
Aku semangat, hatikecilku mulai membesar, jiwaku yang rapuh kembali kokoh, tekatku kuat, tekat untuk melangkah, mengejar semua cita.
Tekat untuk terbang mengambil semua cita-cita yang tergantung di langit, dan tekat untuk mengubur rasa putusasa dalam-dalam di dalam bumi.
***
Hari ini hari yang paling mendebarkan bagi semua anak kelas akhir SMA.
Ya, karena hari ini adalah Ujian Nasional.
Aku harus berusaha semaksimalmungkin untuk mengejar nilai yang memuaskan.
Aku harus bisa membuktikan pada mereka yang selalu meremehkan aku, bahwa aku yang miskin juga bisa kuliah. Tidak harus dengan uangku, tapi dengan otakku.
Aku harus mampu. Demi orangtuaku, demi keluargaku, demi hargadiriku.
Soal demi soal aku kerjakan dengan cermat dan sangat telitih.
Dan 2 MAPEL telah aku lewati.
Saatnya pulang, namun aku tidak langsung pulang, melainkan menunggu Devi terlebih dahulu didepan gerbang sekolahku.
Nggak papalah, kan Devi sahabatku, bukan pacarku. Jadi aku rasa nggak ada masalah lagi ujian aku ketemuan.
"Hai, udah lama nunggu nih? Maaf ya, aku baru selesai."
Ucap Devi.
Namun kini Devi nggak seperti biasanya, kini Devi suaranya lemas, nggak cempreng seperti biasanya. Ada apa dengan sahabat terbaikku ini?
"Nggak juga si, baru sebentar kok. Kenapa? Kok lemes? Lagi sakit?"
Tanyaku pada Devi.
"Nggak, tapi, sepertinya aku harus bicara sama kamu, Din."
"Bicara apa? Sepertinya ada masalah serius?"
Tanyaku penasaran.
Nggak biasanya Devi seserius ini. Biasanya Ia selalu periang, selalu ceria, apapun selalu Ia jadikan bahan candaan. Mengapa kini Ia begitu murung dan serius?
"Kita ke taman aja yuk. Nggak enak kalau harus bicara disini."
"Boleh, terserah kamu aja lah, mau bicara dimana."
Devi mengggandeng aku menuju taman kecil disamping sekolahku.
Taman ini sangat sepi, dan begitu lengang dan tenang. Devi mulai membuka pembicaraan.
"Aku mau ngomong sama kamu Din, dan aku harap, kamu jangan sedih dan tetap semangat."
Ucap Devi
"ngomong apa Dev? Jangan buat aku penasaran dong."
Jawabku penasaran.
"Aku diminta Ayahku untuk melanjutkan kuliah di Amerika Din, kamu tetap semangat disini ya, terus kejar cita-cita kamu sampai kamu bisa mendapatkan apa yang kamu impikan. Buktikan pada mereka bahwa kamu bisa."
Ucap Devi sambil menangis.
Ya Allah. Akhirnya setelah kekasihku, semua teman-temanku, Sahabatku kini juga akan meninggalkan aku.
Apakah aku harus sendiri? Sahabat yang selama ini menjadi tumpuhanku juga akhirnya akan pergi meninggalkan aku.
Aku cuma terdiam, nggak sanggup berkata apapun.
"Jaga diri baik-baik disini ya Din."
"Iya Dev, kamu juga jagadiri baik-baik disana ya. Kuliah yang bener, kalau menurut aku si kamu jangan pacaran dulu, kasihan orangtuamu yang membiyayahi kamu kuliah."
Jawabku, sambil meneteskan airmata.
Duh, bener-bener kelihatan cengeng aku.
"Ada 1 hal lagi yang harus aku sampaikan sama kamu Din."
"Apa itu Dev?"
"Sebenarnya aku nggak pantas mengungkapkan ini sama kamu, tapi memang harus aku ungkapkan sebelum aku pergi. Aku sayang sama kamu Din, aku cinta sama kamu."
Aku kaget setengahmati mendengar ucapan Devi.
Ya, cewek secantik Devi menyatakan cinta padaku. Seorang cowok yang memiliki kekurangan, seorang cowok yang miskin dan selalu terhina.
"Ini bener Dev? Aku nggak mimpi?
"Maafin aku Din, aku harus ungkapkan ini sama kamu. Meskipun sebagai seorang wanita, meskinya aku tidak pantas mengucapkan itu. Tapi, ini rasaku Din, rasa yang mungkin akan aku tinggalkan di Negri ini."
Ujar Devi.
"Aku juga sayang kamu Dev. Aku cinta kamu. Aku akan selalu berusaha sekuat mungkin mengejar cita-citaku demi keluargaku, dan demi kamu. Aku tunggu kamu di Indonesia sampai kamu kembali, dan aku akan berusaha mendapatkan kamu Dev. Kita akan bersatu untuk selamanya.
Ucapku.
"Iya sayang, jaga cinta kita sampai kita kembali bertemu ya."
"Iya, itu pasti sayang."
Jawabku, kemudian kami berpelukan lama sekali seolah kami tidak ingin dipisahkan untuk selamanya.
Dan ini yang pertamakalinya aku memeluk tubuh Devi, selama aku bersahabat dengan Devi.
***
Akhirnya hari yang mendebarkan itupun tiba. Hari dimana aku mengambil pengumuman kelulusan.
Ibu dan Bapakku datang kesekolah untuk menerima pengumuman penentu masadepanku itu.
Aku juga menunggu pengumuman itu dengan hati berdebar tak karuan.
Tanganku dingin seperti Es, perutku mules dan selalu ingin pipis.
Begitu tegangnya aku menunggu pengumuman itu.
Sampai akhirnya, Ibu datang memeluku.
Bapak juga ikut memeluku. Keduanya memeluk aku dengan Erat.
Mereka memeluk aku sambil menangis. Hatiku seakan runtuh, pastilah sesuatu yang aku takutkan telah terjadi.
Ya, aku pasti tidak lulus, aku pasti telah mengecewakan kedua orangtuaku.
"Maafkan aku, Bapak, maafkan aku, Ibu, aku telah membuat Bapak dan Ibu kecewa. Maafkan aku, maafkan aku."
Ucapku pada kedua orangtuaku berulangkali.
"Mas Dino, ikut Ibu dulu ke kantor yuk."
Ucapan Bu Veni sang kepalasekolah yang begitu lembut dan ramah begitu mengagetkan kami yang sedang menangis bersama sambil berpelukan.
"Eh, iya Bu."
Jawabku sambil menundukan kepala untuk menutupi rasa malu.
Bu Veni begitu lembut menggandeng aku menuju kantor kepalasekolah.
Disana ada Pak Budi pegawai bagian tata usaha, ada Pak Gatot Guru yang sangat terkenal galak, dan ada Bu Karlita satu-satunya Guru cantik idolaku, juga ada Pak Haryanto pembimbing asrama yang selalu meremehkan aku dan orangtuaku.
Duh, lengkaplah sudah rasamaluku.
"Begini, maksud Ibu memanggil Nak Dino ke kantor ini, yang pertama, Kami, Ibu Bapak Guru ingin mengucapkan selamat pada Nak Dino, karena Nak Dino lulus dengan nilai yang begitu sempurna dan memuaskan. Dan karena itulah, Nak Dino dapat biasiswa untuk kuliah di Amerika."
Jantung aku bagaikan berhenti dan serasa membeku darahku mendengar ucapan Bu Veni.
Mulutku terus mangap, mataku membelalak, dan aku tersungkur sujut sukur di lantai kantor kepala sekolah itu.
Aku benar-benar bahagia, semua guru memeluku, bahkan pelukan Bu Karlita yang selama ini aku selalu membayangkannya, kini dapat aku rasakan Bu Karlita begitu Erat dan lama memeluk tubuhku.
Ucapan selamat begitu terdengar dimana-mana.
Ibu kembali memeluk aku, Bapak menangis sampai tak sadarkandiri.
Devi begitu tiba disekolahku memeluk aku, bahkan didepan orangtua aku dan orangtuanya.
Ayah dan Ibu Devi sampai ikut terharu.
"Aku menyayangi dia Ayah, Ibu, izinkan kami mengejar cita-cita bersama, izinkan kami bersama meraih mimpi, restuilah kami menggapai bintang yang gemilang Ayah, Ibu."
Ucap Devi sambil menangis bahagia.
"Ayah dan Ibumu mengizinkan kalian untuk mengejar cita-cita bersama Nak, kalian anak-anak yang berfrestasi, Ayah bangga sama Kalian berdua."
Ucap Ayah Devi, dan Akhirnya aku dan Devi berangkat bersama Ke Amerika untuk menjemput asa, meraih mimpi, dan menggapai bintang yang gemilang.
TAMAT.
Pengarang dan penulis cerita:
Muhammad Ainul Yaqin.
MENGEJAR CITA BERSAMA CINTA
By Muhammad Ainul Yaqin.
Terkadang banyak orang yang memandang orang lain karena hartanya, melihat bahwa orang itu bisa karena dia kaya, dan percaya bahwa orang itu mampu karena punya harta.
Namaku Dino, bukan Dino saurus kepanjangannya, tapi Dino Rianto.
Aku akan mengisahkan tentang masa sekolahku yang selalu mendapat rintangan, cemoohan, dan selalu di pandang sebelah mata oleh teman-temanku, orangtua kekasihku, kekasihku sendiri, bahkan Guruku.
Penyebabnya mereka memandang sebelah mata padaku hanya karena aku anak orang yang sederhana.
Ya, kata sederhana atau miskin itulah yang selalu membuat mereka semua memandangku sebelah mata.
Hanya cinta sahabatlah, yang selalu menerangi jiwa ini saat aku jauh dari orangtuaku, dan semua keluargaku.
***
Siang ini sangat ramai, di Sekolah Luarbiasa kota Biru Indah semua Anak nampak beraktifitas seperti biasanya.
Ada yang mengobrol tentang pelajaran, yang cewek ngobrol tentang sinetron, bahkan tidak jarang juga anak-anak yang mengobrol tentang bola. Pokoknya ramai deh, seperti pasar.
Di depan kelasku, nampak segerombolan anak yang sedang asyik membahas tentang bola, aku dapat mengenali suaranya, Mereka adalah Ario, Teguh, dan Andi.
Mereka langsung terdiam seribubahasa saat mengetahui aku datang dan ikut duduk bergabung di samping Mereka.
Diam, berbisik, dan akhirnya mereka pergi.
Sebenarnya aku juga nggak tahu, apa salahku? Apa dosaku hingga mereka semua menjauhiku. Yang aku tahu, aku hanyalah anak orang tapunya.
Tapi mungkinkah karena itu mereka semua menjadi menjauhiku?
Ya, aku memang anak orang yang sangat sederhana, Pekerjaan Bapakku hanyalah penjual buah keliling yang tak menentu penghasilannya. Boro-boro untuk membeli pakaian yang bagus, kendaraan yang mewah, untuk makan saja jika hari ini ada kami sangat bersyukur.
Toh kesederhanaan atau lebih kasarnya kemiskinan itu semua tidak ada masalah bagi aku.
Bagiku asalkan aku bisa memandang dirinya didalam cermin sebagai diriku sendiri itu merupakan hal yang sangat berharga didalam hidup ini.
Dalam artian aku bisa menunjukan aku apa adanya untuk diriku sendiri, tanpa ada yang kulebihkan dan kukurangi itu merupakan bagian hidup yang sampai saat ini massih sangat aku pertahankan.
Selama ini sering aku mengamati kehidupan di sekitarku, atau merasakan kehidupan disekitarku, banyak sekali orang yang tidak jujur pada dirinya sendiri, maupun pada oranglain.
Seringkali aku melihat bagaimana teman-temanku yang berpenampilan menarik jika ketemuan dengan pacarnya, padahal saat di kosan bajunya sudah 1 minggu tidak dicuci.
Apa mungkin Para pejabat yang berpidato sangat lembut, sangat mengutamakan kepentingan Masyarakat kecil, seolah-olah masyarakat yang terutama dan lebih penting dari segala-galanya, padahal di balik sakunya terselip uang pembangunan sekolah, pembangunan jalan, dan lain-lain yang tentunya membuat masyarakat kecil semakin terjepit.
Dan kedua manusia yang sedang dilanda asmara yang mengatakan kamulah yang terindah, kamulah yang sanggup membuat aku tergila-gila, aku tidak akan meninggalkanmu, apapun yang terjadi.
Padahal dibelakang kekasihnya dia tergila-gila pada orang lain yang lebih indah dompetnya, yang berujung meninggalkan kekasihnya karena orang ketiga yang dompetnya lebih tebal.
Aku tidak suka dengan ketidakjujuran seperti itu, meskipun aku tidak bisa mengatakan bahwa akulah orang yang selalu jujur, akulah orang yang takpernah berbohong, tentu aku tidak bisa mengatakan itu, sebab setiap manusia yang masih bernafas pasti sedikit banyak pernah melakukan kebohongan baik pada orang lain, maupun pada dirinya sendiri.
Tapi setidaknya aku selalu tampil apa adanya, tanpa ada yang aku kurangi, maupun aku lebihkan.
Inilah aku yang jelek, inilah aku yang miskin, inilah aku yang bodoh, inilah aku yang memiliki kekurangan penglihatan pada mataku, atau lebih tepatnya dikatakan tunanetra.
"Woy, ngelamun sendirian ajah loh?"
Ucap seorang gadis manis bersuara cempreng menyadarkanku dari lamunan ini.
Aku dapat mengenali suaranya, Dia adalah Devi.
Ya, dari semua teman yang menjauhiku, hanya Devi yang masih mau bersahabat denganku.
Bukannya Devi juga sama anak orang miskin seperti aku, itu bukan.
Devi anak orang kaya, Bapaknya mempunyai banyak lestoran di seluruh Negri ini. Ibunya mempunyai bisnis garmen yang besar dan banyak cabangnya.
Wajah Devi juga cantik, seperti Nikitawili.
Tapi entah mengapa, ini anak mau bersahabat denganku yang miskin dan buta.
Ya, meskipun Devi berbeda jauh denganku, namun toh dia masih mau menjadi sahabat yang selalu ada buat aku.
***
Aku masih teringat 3 tahun yang lalu saat pertamakali aku berkenalan dengan Devi, waktu itu aku masih anak baru di sekolah ini, dan Devi juga sama, masih Siswi baru di sekolahnya, SMA 222.
SLB tempat aku sekolah dengan SMA 222 tempat Devi sekolah tepat berhadapan pintu gerbangnya, sehingga jika jam istirahat warung soto Pak Jarotlah yang menjadi tujuan anak-anak SMA 222 dan SLB Kota Biru Indah tempat aku sekolah.
Waktu itu aku mau beli soto Pak Jarot di depan, namun aku belum hafal jalannya. Berhubung aku anaknya nekat, aku jalan aja kedepan sendiri.
Dengan gagah dan berani aku berjalan setengah terburu-buru.
Aku nggak sadar di depanku ada becak yang sedang berhenti. Dan akupun menabrak becak itu sampai kakiku naik ke atas becak, karena aku kira itu bukan becak, tapi jalanan yang menanjak.
Abang becak yang lagi tertidur di atas becak sambil menunggu penumpangpun terbangun kaget.
Sampai akhirnya aku di gandeng abang becak itu sampai di tempat warung soto Pak Jarot.
"Mau beli apa Mas?"
Ucap seorang gadis di depanku.
"Beli soto, jangan pedes, di kasi lontong ya Bu."
Ucapku dengan lancar.
"Eh, maaf Mas, aku bukan penjualnya, itu penjualnya di depan."
Duh, malunya aku, ternyata salah orang aku.
"Duh, maaf Mbak, aku nggak liat."
Buru-buru aku meminta maaf pada Cewek SMA yang barusan aku panggil Bu Itu.
"Iya, Iya, nggak Papa Mas."
Jawab cewek itu.
Cewek itu terus duduk di bangku yang tepat di depan bangku yang aku duduki, sampai soto pesananku jadi dan masih dengan malu-malu aku melahap soto itu.
Nggak cuma disitu yang membuat aku malu-malu kuda, tapi karena soto itu lumayan pedas juga panas, ingusku sempat melongok dari hidung dan cewek itu pasti melihatnya.
Duh, betapa malunya aku, mau mengelap ini ingus malu, mau membiarkan apalagi.
Akhirnya aku pura-pura menunduk, sambil mengelap nih ingus.
Nah mulai disitu aku kenal Devi, karena kami sering ketemu di warung soto Pak Jarot, akhirnya kami saling berkenalan, dan bertahap kami saling mengenal, dan sampai saat ini kami menjadi 2 orang sahabat yang saling menyayangi.
***
"Aku lagi bingung nih Dev, mengapa ya? Mereka selalu menjauhi aku? Apa sebenarnya salahku?"
Ucapku pada Devi, setelah sekian lamanya aku terdiam.
"Udah lah, ngapain si kamu mikirin mereka? Toh kamu makan nggak disuapin mereka kan? Toh kamu jalan nggak harus digendong mereka kan? Jadi ngapain kamu mikirin mereka. Mending kita makan soto aja yuk."
Ucap Devi sambil meraih tanganku.
Ya, ini sahabat memang selalu ada di saat aku terjatuh, selalu ada menggenggam tanganku di saat aku rapuh, terutama rapuh karena di jauhi teman karena kemiskinan, juga di putuskan kekasih yang mungkin juga karena kemiskinan pula.
"Eh, Nak Dino sama Mbak Devi. Monggo, monggo, duduk dulu. Mau makan apa Mas ganteng sama Mbak cantik?"
Ucap Pak Jarot sangpenjual soto langganan.
"Biasa Pak, kami pesan Soto yang pedas, di kasih lontong ya."
Jawab Devi yang sekaligus menjadi juru bicara buat aku dalam memesan makanan, karena kesukaan kami benar-benar sama.
"Ok, Siap Neeeeeng."
Jawab Pak Jarot sambil tersenyum ramah.
"Aku yakin, pasti kamu nggak hanya galau karena dijauhi Mereka, tapi juga masih galau karena Diana kan?"
Tanya devi membuka pembicaraan.
Dan herannya tebakan nih bocah tepat Loh, kalau aku nggak hanya lagi galau karena dijauhi semua teman-teman, tapi yang paling mendasar galau karena aku teringat dengan mantanku yang bernama Diana, yang baru memutuskan aku tanpa sebab satu minggu yanglalu.
Berhubung pertanyaan Devi sangat tepat dan samasekali tidak melenceng, ya, aku hanya bisa mengangguk. Karena memang itu yang aku rasakan.
Ya, aku masih benar-benar teringat saat-saat menyakitkan itu, saat Diana kekasih yang sangat aku bangga-banggakan memutuskan aku tanpa sebab.
Tapi ya, entah memang benar-benar tanpa sebab, apa ada sebab lain yang aku nggak tahu, itu hanya Tuhan yang tahu.
***
"Mengapa? Mengapa kita harus putus?"
Tanyaku pada Diana waktu itu.
"Karena aku udah nggak ada rasa sama kamu, aku udah nggak sayang kamu lagi."
Itu, hanya itu alasan Diana.
"Lagian aku juga belum boleh pacaran sama Ayahku." Tambahnya.
Udah nggak sayang, udah nggak ada rasa, ini, ya, cuma ini buahnya dari hubungan asmara yang sudah aku bangun selama hampir 2 tahun dengan gadis munavik ini, cuman kata-kata hilangrasa, nggak sayang lagi, dan belum boleh pacaran sama Ayah. Cuma Kata-kata menjijikan itu buahnya.
Makannya, aku juga sebenarnya jijik dengan perasaanku sendiri, yang masih saja mencintainya, masih saja menyayanginya, dan masih sering berusaha menghubungi gadis munavik itu.
***
"Woooooy, malah ngelamun, nih sotonya udah jadi, ayo cepet dimakan, sebentar lagi masuk ini."
Ucapan Devi mengagetkan aku lagi dari lamunanku.
"Eh, iya, iya." Jawabku seperti orang bloon, lalu langsung menyantap soto lezat yang ada didepan mataku.
"Sudahlah Din, ngapain Kamu terus-terusan memikirkan Diana? Toh Diana juga belum tentu mikirin kamu."
Ucap Devi.
"Aku masih sangat menyayangi dia, Dev."
Jawabku jujur. Devi menarik nafas, tubuhnya di sandarkan pada kursi kayu yang ada di warung soto Pak Jarot itu. Lalu kemudian, Ia kembali membuka suara.
"Semua terserah kamu, Din, aku sebagai sahabat hanya bisa memberi saran yang terbaik, dan menghibur kamu sebisamungkin."
"Terimakasih, Dev, terimakasih."
Jawabku, kemudian kami kembali ke sekolah kami masing-masing untuk mengikuti MAPEL yang selanjutnya.
***
Hari ini hari Senin, aku terpaksa izin nggak masuk sekolah karena aku nggak enak badan.
Ya, rasa sakit hatiku karena diputuskan tanpa sebab oleh Diana dan dijauhi teman rupanya benar-benar membuat aku drop.
Aku izin nggak masuk sekolah, dan aku istirahat di kamar asramaku.
Samar-samar aku mendengar Pak Haryanto, pembimbing asramaku, sedang bercakap-cakap dengan Ayah dan Ibunya Teguh, yang baru datang untuk menjenguk Teguh di asrama.
"Iya, saya sangat mendukung kalau mas Teguh melanjutkan pendidikannya di Ibu Kota."
Ucap Pak Haryanto yang samar-samar kudengar.
"Iya, Pak, Teguh kan anaknya mampu, dan dia sangat percayadiri untuk melanjutkan pendidikan disana."
Jawab Ibunya Teguh.
"Iya, iya Bu, saya tahu, Teguh anaknya pintar, lincah, juga cerdik. Makannya, saya usahakan, supaya Teguh bisa masuk Unifersitas ternama di Ibu Kota."
Ucap Pak Haryanto.
"Iya, Pak, tapi terusterang saya masih belum tega kalau membiarkan Teguh merantau jauh dari saya."
"Ibu tenang, Bu, saya yakin, Teguh pasti dapat hidup mandiri disana, dan saya juga sangat mengerti, bahwa Teguh anak yang pandai membawa diri, bisa mengerti dan membaca situasi, jadi Ibu nggak usah khawatir."
Ucap Pak Haryanto begitu meyakinkan Ibunya Teguh, bahwa Teguh mampu hidup mandiri saat jauh dari orangtua.
Ucapan Pak Haryanto benar-benar terdengar bijaksana dan menenangkan, bagaikan seorang Ayah yang menenangkan anaknya dari segala macam ketakutan.
Disini aku heran, mengapa ucapan Pak Haryanto pada orangtua Teguh begitu berbeda 190 drajat sama ucapannya pada Orangtuaku 1 minggu yang lalu?
Padahal keinginanku dengan keininan Teguh sama, yaitu meneruskan pendidikan di Ibukota. Tapi mengapa Pak Haryanto begitu berbeda cara menanggapinya? Apa sebabnya?
Ya, betapa ucapan Pak Haryanto masih terngiang-ngiang ditelingaku. Ucapannya 1 Minggu yanglalu yang sempat membuat langkahku ragu, membuat aku rapuh, dan membuat aku menjadi kecil hati.
***
"Gimana Bu? Habis lulus dari sini rencananya Mas Dino mau lanjut kemana? Nikah, kerja, apa gimana?"
Tanya Pak Haryanto Pada Ibuku 1 Minggu yanglalu, saat Ibuku mengunjungi aku ke Asrama.
"Ya, Insya Allah si Mas Dino pengin kuliah di Jakarta, Pak."
Jawab Ibuku.
"Waduh, kuliah di Jakarta? Sepertinya agak susah, Bu, kalau Dino mau masuk kesana, selain saingannya banyak, biyaya kehidupannya juga sangat berat disana Bu."
Jawab Pak Haryanto Waktu itu.
Jelas, jawaban itu membuat aku kecil hati untuk melanjutkan kuliah.
Dan aku sempat bingung sesudah lulus SMA aku mau apa? Aku harus gimana?
Langsung nyari kerja nggak mungkin, aku tunanetra, pekerjaan apa yang pantas untuk aku yang hanya bermodalkan ijasa SMA?
Tapi kini aku baru tahu, rupanya Pak Haryanto ini tidak percaya bahwa orang miskin seperti aku bisa kuliah.
Aku baru tahu rupanya orang baru bisa kelihatan mampu melakukan segala macam hal apabila orang itu terlihat banyak uang, hidup berkecukupan, berpakaian bagus, juga berkendaraan mewah.
Sementara yang anak orang miskin seperti aku mungkin dimata orang tidak pantas mempunyai cita-cita, tidak pantas bersekolah tinggi, dan tidak mungkin mampu merubah kehidupannya, kecuali nazib yang mengubahnya.
Ok, kali ini aku kembali semangat.
Aku ingin membuktikan pada semua orang yang meremehkan aku, dan keluargaku, bahwa akupun bisa mengejar cita-citaku, bahwa akupun mampu bersekolah tinggi meskipun aku anak orang miskin.
Aku harus bisa! Ya, aku harus bisa!
Ayo, Dino! Kamu harus bisa, kamu harus bisa mengangkat derajat orangtuamu, kamu harus bisa menunjukan pada mereka bahwa kamupun mampu.
Aku semangat, hatikecilku mulai membesar, jiwaku yang rapuh kembali kokoh, tekatku kuat, tekat untuk melangkah, mengejar semua cita.
Tekat untuk terbang mengambil semua cita-cita yang tergantung di langit, dan tekat untuk mengubur rasa putusasa dalam-dalam di dalam bumi.
***
Hari ini hari yang paling mendebarkan bagi semua anak kelas akhir SMA.
Ya, karena hari ini adalah Ujian Nasional.
Aku harus berusaha semaksimalmungkin untuk mengejar nilai yang memuaskan.
Aku harus bisa membuktikan pada mereka yang selalu meremehkan aku, bahwa aku yang miskin juga bisa kuliah. Tidak harus dengan uangku, tapi dengan otakku.
Aku harus mampu. Demi orangtuaku, demi keluargaku, demi hargadiriku.
Soal demi soal aku kerjakan dengan cermat dan sangat telitih.
Dan 2 MAPEL telah aku lewati.
Saatnya pulang, namun aku tidak langsung pulang, melainkan menunggu Devi terlebih dahulu didepan gerbang sekolahku.
Nggak papalah, kan Devi sahabatku, bukan pacarku. Jadi aku rasa nggak ada masalah lagi ujian aku ketemuan.
"Hai, udah lama nunggu nih? Maaf ya, aku baru selesai."
Ucap Devi.
Namun kini Devi nggak seperti biasanya, kini Devi suaranya lemas, nggak cempreng seperti biasanya. Ada apa dengan sahabat terbaikku ini?
"Nggak juga si, baru sebentar kok. Kenapa? Kok lemes? Lagi sakit?"
Tanyaku pada Devi.
"Nggak, tapi, sepertinya aku harus bicara sama kamu, Din."
"Bicara apa? Sepertinya ada masalah serius?"
Tanyaku penasaran.
Nggak biasanya Devi seserius ini. Biasanya Ia selalu periang, selalu ceria, apapun selalu Ia jadikan bahan candaan. Mengapa kini Ia begitu murung dan serius?
"Kita ke taman aja yuk. Nggak enak kalau harus bicara disini."
"Boleh, terserah kamu aja lah, mau bicara dimana."
Devi mengggandeng aku menuju taman kecil disamping sekolahku.
Taman ini sangat sepi, dan begitu lengang dan tenang. Devi mulai membuka pembicaraan.
"Aku mau ngomong sama kamu Din, dan aku harap, kamu jangan sedih dan tetap semangat."
Ucap Devi
"ngomong apa Dev? Jangan buat aku penasaran dong."
Jawabku penasaran.
"Aku diminta Ayahku untuk melanjutkan kuliah di Amerika Din, kamu tetap semangat disini ya, terus kejar cita-cita kamu sampai kamu bisa mendapatkan apa yang kamu impikan. Buktikan pada mereka bahwa kamu bisa."
Ucap Devi sambil menangis.
Ya Allah. Akhirnya setelah kekasihku, semua teman-temanku, Sahabatku kini juga akan meninggalkan aku.
Apakah aku harus sendiri? Sahabat yang selama ini menjadi tumpuhanku juga akhirnya akan pergi meninggalkan aku.
Aku cuma terdiam, nggak sanggup berkata apapun.
"Jaga diri baik-baik disini ya Din."
"Iya Dev, kamu juga jagadiri baik-baik disana ya. Kuliah yang bener, kalau menurut aku si kamu jangan pacaran dulu, kasihan orangtuamu yang membiyayahi kamu kuliah."
Jawabku, sambil meneteskan airmata.
Duh, bener-bener kelihatan cengeng aku.
"Ada 1 hal lagi yang harus aku sampaikan sama kamu Din."
"Apa itu Dev?"
"Sebenarnya aku nggak pantas mengungkapkan ini sama kamu, tapi memang harus aku ungkapkan sebelum aku pergi. Aku sayang sama kamu Din, aku cinta sama kamu."
Aku kaget setengahmati mendengar ucapan Devi.
Ya, cewek secantik Devi menyatakan cinta padaku. Seorang cowok yang memiliki kekurangan, seorang cowok yang miskin dan selalu terhina.
"Ini bener Dev? Aku nggak mimpi?
"Maafin aku Din, aku harus ungkapkan ini sama kamu. Meskipun sebagai seorang wanita, meskinya aku tidak pantas mengucapkan itu. Tapi, ini rasaku Din, rasa yang mungkin akan aku tinggalkan di Negri ini."
Ujar Devi.
"Aku juga sayang kamu Dev. Aku cinta kamu. Aku akan selalu berusaha sekuat mungkin mengejar cita-citaku demi keluargaku, dan demi kamu. Aku tunggu kamu di Indonesia sampai kamu kembali, dan aku akan berusaha mendapatkan kamu Dev. Kita akan bersatu untuk selamanya.
Ucapku.
"Iya sayang, jaga cinta kita sampai kita kembali bertemu ya."
"Iya, itu pasti sayang."
Jawabku, kemudian kami berpelukan lama sekali seolah kami tidak ingin dipisahkan untuk selamanya.
Dan ini yang pertamakalinya aku memeluk tubuh Devi, selama aku bersahabat dengan Devi.
***
Akhirnya hari yang mendebarkan itupun tiba. Hari dimana aku mengambil pengumuman kelulusan.
Ibu dan Bapakku datang kesekolah untuk menerima pengumuman penentu masadepanku itu.
Aku juga menunggu pengumuman itu dengan hati berdebar tak karuan.
Tanganku dingin seperti Es, perutku mules dan selalu ingin pipis.
Begitu tegangnya aku menunggu pengumuman itu.
Sampai akhirnya, Ibu datang memeluku.
Bapak juga ikut memeluku. Keduanya memeluk aku dengan Erat.
Mereka memeluk aku sambil menangis. Hatiku seakan runtuh, pastilah sesuatu yang aku takutkan telah terjadi.
Ya, aku pasti tidak lulus, aku pasti telah mengecewakan kedua orangtuaku.
"Maafkan aku, Bapak, maafkan aku, Ibu, aku telah membuat Bapak dan Ibu kecewa. Maafkan aku, maafkan aku."
Ucapku pada kedua orangtuaku berulangkali.
"Mas Dino, ikut Ibu dulu ke kantor yuk."
Ucapan Bu Veni sang kepalasekolah yang begitu lembut dan ramah begitu mengagetkan kami yang sedang menangis bersama sambil berpelukan.
"Eh, iya Bu."
Jawabku sambil menundukan kepala untuk menutupi rasa malu.
Bu Veni begitu lembut menggandeng aku menuju kantor kepalasekolah.
Disana ada Pak Budi pegawai bagian tata usaha, ada Pak Gatot Guru yang sangat terkenal galak, dan ada Bu Karlita satu-satunya Guru cantik idolaku, juga ada Pak Haryanto pembimbing asrama yang selalu meremehkan aku dan orangtuaku.
Duh, lengkaplah sudah rasamaluku.
"Begini, maksud Ibu memanggil Nak Dino ke kantor ini, yang pertama, Kami, Ibu Bapak Guru ingin mengucapkan selamat pada Nak Dino, karena Nak Dino lulus dengan nilai yang begitu sempurna dan memuaskan. Dan karena itulah, Nak Dino dapat biasiswa untuk kuliah di Amerika."
Jantung aku bagaikan berhenti dan serasa membeku darahku mendengar ucapan Bu Veni.
Mulutku terus mangap, mataku membelalak, dan aku tersungkur sujut sukur di lantai kantor kepala sekolah itu.
Aku benar-benar bahagia, semua guru memeluku, bahkan pelukan Bu Karlita yang selama ini aku selalu membayangkannya, kini dapat aku rasakan Bu Karlita begitu Erat dan lama memeluk tubuhku.
Ucapan selamat begitu terdengar dimana-mana.
Ibu kembali memeluk aku, Bapak menangis sampai tak sadarkandiri.
Devi begitu tiba disekolahku memeluk aku, bahkan didepan orangtua aku dan orangtuanya.
Ayah dan Ibu Devi sampai ikut terharu.
"Aku menyayangi dia Ayah, Ibu, izinkan kami mengejar cita-cita bersama, izinkan kami bersama meraih mimpi, restuilah kami menggapai bintang yang gemilang Ayah, Ibu."
Ucap Devi sambil menangis bahagia.
"Ayah dan Ibumu mengizinkan kalian untuk mengejar cita-cita bersama Nak, kalian anak-anak yang berfrestasi, Ayah bangga sama Kalian berdua."
Ucap Ayah Devi, dan Akhirnya aku dan Devi berangkat bersama Ke Amerika untuk menjemput asa, meraih mimpi, dan menggapai bintang yang gemilang.
TAMAT.
Pengarang dan penulis cerita:
Muhammad Ainul Yaqin.
11.06
MENGEJAR CITA BERSAMA CINTA By Muhammad Ainul Yaqin. Terkadang banyak orang yang memandang orang lain karena hartanya, melihat bahwa orang i...
MENGEJAR CITA BERSAMA CINTA
About author: Mohammad Aenul Yaqin
Cress arugula peanut tigernut wattle seed kombu parsnip. Lotus root mung bean arugula tigernut horseradish endive yarrow gourd. Radicchio cress avocado garlic quandong collard greens.
Langganan:
Posting Komentar (Atom)

Jadi sekarang udah di Amerika ya? Jangan lupa bawa bekal soto kesana sob, hehee
BalasHapus